21 tahun saya hidup di dunia saya yang panas ini. Namun baru beberapa tahun belakangan, saya pelan tapi pasti mulai menemukan apa yang sebenarnya saya inginkan, apa yang menjadi tujuan saya nanti. Tidak perlu saya paparkan terlalu panjang disini, tidak terlalu penting nampaknya (bagi orang lain, hehehe). Tampaknya , gak jauh2lah dari yng namanya.. duit.

Ini lho yang namanya duit itu ;p

Entah kenapa, tiba2 saya merasa ingin menulis tentang salah satu ketertarikan saya pada profesi orang2 disekeliling, atau bahkan yang saya lihat di tivi. Ternyata sangat bermacam-macam, unik, beberapa penuh bahaya, dan sebagainya. Saya pernah lihat di sebuah tivi swasta tentang berbagai profesi yang tidak hanya sangat menantang, penuh resiko, namun kadang harus sangat dekat dengan kehilangan nyawa.

Rasanya, saya sangat terkagum-kagum pada setiap orang yang saya ceritakan diatas. Pada semua proses yang dilalui, berbagai macam cara yang dilakukan. Semuanya demi sesuatu yang sangat menarik dan tidak pernah ada habisnya untuk dibahas, duit.

‘Lembaran kehidupan’ yang satu ini menurut saya adalah salah satu keajaiban dunia yang tak terbantahkan. Kalau Batik diakui dunia sebagai “Intangible Heritage”, maka duit harusnya dinobatkan sebagai yang “Tangible”, nyata. Lembaran, yang bisa membuat kehidupan seseorang bisa sangat berbeda satu sama lain. Lembaran yang membuat orang memandangmu dibawah ataukah diatas. Lembaran sakti. Kehormatan seseorang bergantung seberapa tebal lembaran yang dia miliki. Kalau banyak, bahagialah hidupnya. Kalau sebaliknya, hidupnya dipastikan akan sengsara.

Orang2 tangguh tak kenal lelah diatas juga bergantung pada lembaran2 ini. Menggeluti berbagai profesi, mencoba berbagai cara untuk dapat bekerja, mengumpulkan lembar demi lembar kertas ajaib itu. Lucu juga, bagaimana cara mereka mendapatkan duit juga sangat menentukan status sosial mereka. Orang yang mencari duit dengan pakaian yang berdasi, jas, pokoknya yang rapi2 gitu deh, pasti banyak orang yang suka, memberikan senyum, atau bahkan mendapat sanjungan disana-sini. Berbanding terbalik dengan yang berpakaian kusut, kotor,  keringat dan bau dimana-mana. Orang2 seperti ini cuma bikin orang lain susah senyum. Bikin repot. Bikin sumpek. Orang lain pasti malas memberikan hormat, apalagi menjalin pertemanan yang akrab. Pekerja kasar hanya pantas hidup di jaman 1.0, alias jaman dulu. Dunia sekarang adalah dunia 2.0, dunianya orang2 yang berduit.

There’s no place for poor. Gak ada lagi tempat buat orang susah. Gak ada lagi. Orang susah cuma bikin repot pemerintah. Bikin perempatan penuh sesak, macet. Bikin suasana kota menjadi kumuh, tak sedap dipandang. Bikin rumah sakit sibuk mengurus surat ini-itu, biar mereka gak usah bayar. Enak sekali gak bayar. Mau sehat? Bayar woiii!!. Gak ada yang gratis. Dunia butuh duit, bung!