Pray For Indonesia

Sudah sebulanan gak nulis. Cukup lama juga rasanya gak mengunjungi blog sendiri. Kuliah yang cuma 3 hari dalam seminggu pun tak mampu mengurangi padatnya jadwal kegiatan saya. *maklum artis*. Dan di malam yang cukup dingin akibat baru saja diguyur hujan ini, saya yang dari kemarin2 pengen nulis, jadi punya sedikit topik buat tulisan saya kali ini.

Ya. Suasana duka yang dialami teman2 di Wasior, Merapi, dan Mentawai sana akhirnya membuat saya merasa harus menuliskannya dalam blog ini. Kejadian yang akhir2 ini hampir setiap hari menghiasi layar tivi ini memang sangat menyedihkan. Namun semua itu mungkin sudah jauh lebih jelas dijabarkan di berbagai media. Saya mencoba melihat sisi lain yang saya dapat dari adanya cobaan ini.
Adalah banyaknya warga yang dengan semangat memberikan bantuan, baik tenaga maupun harta benda, belum lagi yang mendoakan dengan pengajian2 dan lain sebagainya. Luar biasa ternyata.

Kadang saya bertanya, apakah harus ada bencana semacam ini dulu, baru bisa membuat kita rukun dan bergotong-royong? Apakah harus ada gempa 7 skala richter yang disusul tsunami dahsyat, yang membuat kita mau merelakan harta benda kita untuk disumbangkan? Apakah harus diletuskan gunung merapi dengan “wedhus gembel”-nya, hanya untuk membuat kita berkumpul mendoakan kebaikan bangsa bersama, atau yang kita sebut “pray for indonesia” itu? Apa Tuhan harus menumpahkan air bah dahulu ke Wasior, agar kita sejenak menoleh ke papua, daerah yang tertinggal dan jauh dari sarana-prasarana yang memadai itu? Benarkah harus demikian?

Merapi Eruption

Saya sempat tertegun waktu melihat tayangan tivi tentang begitu tulusnya sekelompok pengamen yang rela menyumbangkan uang hasil kerja mereka selama beberapa hari untuk korban bencana diatas. PEKA, begitulah mereka menamakan diri, yang singkatan dari “Perkumpulan Pengamen Kereta” -(maaf kalau salah). Selama 6 hari, sekitar Rp 9 juta berhasil mereka kumpulkan. Dahsyat bukan?!!

Yang lebih dahsyat lagi adalah menyadari bahwa mereka adalah para pengamen. Bukan orang berada. Uang segitu besar tentulah sangat berharga, namun malah semuanya mereka salurkan kepada korban bencana. Sangat inspiratif dan menyentuh. Saya bahkan mampu merasakan haru sekaligus rasa salut yang demikian besar di mata presenter acara tivi yang mengundang mereka hadir untuk diwawancarai. Berulang kali dia mengucap, “Luar biasa.. luar biasa”. Saya bisa merasakan ucapannya dari hati. Ucapan yang memang pantas buat pengamen, kaum kelas bawah yang bahkan tak pernah dilirik oleh “wakil2 mereka di pemerintahan” itu. Mereka memang luar biasa.

Pada akhirnya, saya jadi semakin yakin, kejadian2 yang kita sebut bencana diatas, mau tidak mau, kadang tidak bisa kita sebut 100 % bencana. Ada bagian2 pelajaran yang amat berharga yang diselipkan oleh-Nya, yang akan selalu digunakan dimasa depan nanti, agar kita menjadi manusia yang lebih baik lagi. Jangan menyerah, Wasior, Merapi, Mentawai. Jangan menyerah, Indonesia. Semoga selalu terbit terang setelah gelap yang menimpamu akhir2 ini.

*image: http://poedjituhan.edublogs.org