Yak. Dan disinilah Wak Sati akan mulai saya ekspose. Beuh. Bahasanyaaaa. Diekspose. Kalah artis.
Ada beberapa pertanyaan sebelumnya. Pernahkah punya nenek? Ah, pertanyaan bodoh. Maksud saya, pernahkan anda meneliti nenek anda? Hmm, tambah bodoh ini.
Begini, nenek, omah, embah atau apalah panggilan kepada orang yang biasanya seksi tua ini, anda pasti pernah mengamati mereka. Ibu2 yang telah dimakan usia ini umumnya sudah pensiun dari tugasnya, sebagai orang tua. Tinggal menikmati masa tua, menimang cucu, trus mesra2an deh sama si kakek. Yang terakhir itu agak2 jiwa muda banget kayaknya. Oke stop nglantur.
Namun, buat yang tadi bertanya2 Wak Sati itu apa, maka anda salah. Wak Sati adalah siapa. Ya. Dia adalah makhluk hidup. Berjenis kelamin perempuan. Sama seperti saya anda, yang perempuan pastinya. Dan sudah nenek2. Sangat tua.

Wak Sati
Wak Sati adalah panggilan khas nenek yang satu ini. Wak adalah salah satu panggilan dalam bahasa jawa untuk seorang yang dianggap sudah tua. Dan Sati -saya tidak tahu lengkapnya- adalah nama nenek ini sendiri.
Dan kenapa saya sangat terdorong untuk menuliskan kisahnya, adalah karena sosok satu ini, sedikit banyak, secara tidak langsung telah memberi pelajaran hidup pada saya.
Wak Sati, nenek tua ini, ah, bahkan sangat tua -kalau tidak boleh dibilang renta-, benar-benar sosok pekerja keras, bahkan sangat keras. Hampir setiap hari, nenek yang saya kira berumur lebih dari 70 tahun ini berjalan di jalan depan rumah saya, dengan bakul dipundaknya, yang biasanya diisi dengan sayur mayur, kacang, pisang, dan sebagainya, yang tentulah sangat berat untuk orang setua dia.
Berjalan
Tadi sempat saya bilang, dia berjalan dengan bakul yang sarat isi dipundaknya. Ya, berjalan. Terseok2 lebih tepatnya.
Pernah saya bertanya kurang lebih seperti ini :
Saya : “Kok mboten digawe sandale, Wak Sati?” (Kenapa nggak dipake sendalnya, Wak Sati?)
WS: “Aduh, ora iso nak, engkuk aku tibo.” (Aduuh, nggak bisa nak, nanti aku jatuh).
Secuplik dialog yang membuat saya sedikit emosinal ini terjadi waktu saya mendapati dia sedang berhenti di jalan depan rumah, siang hari sekitar jam 11, yang tentu saja udara lagi panas2nya. Anda harus tahu bahwa waktu itu dia hanya bertelanjang kaki, sendalnya dia simpan di bakul yang dia pikul, dimana disitu bercampur dengan sayur mayur yang belum laku. Nampaknya dia baru saja menerima selembar uang 2 ribuan dari pengemudi mobil yang kebetulan berhenti. Berulang kali syukur diucapkannya untuk selembar uang yang buat kebanyakan orang mungkin sering kali cuma cukup buat uang parkir kalo lagi ke mall. Selembar uang yang bahkan tak cukup mengisi pulsa handphone kita sehari-hari. Selembar.. yang tak bernilai. Begitu kan?
Saya pas lagi pegang handphone waktu itu. Ingin sekali saya ambil gambar wajahnya yang.. ah, susah menggambarkannya. Tirus, keriput(pastilah), kedua mata yang hitamnya mulai memudar, mungkin karena rabun dan semacamnya, yang pasti saya yakin penglihatan nenek ini sudah sangat buruk. Sama sekali tak layak untuk bekerja.
Waktu istirahat super singkat Wak Sati itu tentu saja tak saya sia2kan. Sudah lama sekali saya pengin tanya2 singkat mengenai dia, keluarga, maupun kenapa sampai setua ini masih terus bekerja, berjalan menyusuri jalan kampung saya yang semakin ramai dari tahun-ketahun.
Di postingan selanjutnya, akan saya tulis “wawancara singkat” saya dengan Wak Sati. Wawancara, hahaha. Apalah namanya, yang pasti tenggorokan saya berulang kali tercekat, menelan ludah, mendengar jawaban2 polos nan mengiris hati. Emosional..

-bersambung-