Bukber. Buber. Bubar. Barbar -halah-. Or, whatever you say, buka bersama adalah saat yang menyenangkan dan dinanti2 semua kalangan sewaktu Ramadan tiba. Terutama anak2 muda, biar dikata G4hUL gitu.

Berbuka memang satu hal yang menyenangkan, apalagi ditambah berkumpul bersama teman2. Tentu saja jadinya gak sekedar berbuka, namun juga saling berbincang, melepas kangen bagi yang lama tak berjumpa, dan juga mengenang indahnya kebersamaan sebagai teman, atau sahabat. Saling bercerita tentang pengalaman yang lalu, dan rencana yang akan dilakukan dimasa yang akan datang. Semua itu mendekatkan kita sebagai teman seperjuangan, partner-in-crime istilahnya, haha.

Begitupun juga saya, sebagai pemuda ganteng muslim yang melakukan ibadah puasa. Kegiatan berbuka bersama teman2 adalah saat yang ditunggu2. Saat2 yang mungkin mahal, karena semakin sulitnya berkumpul. Semua telah menjadi “orang” rupanya, punya kesibukan sendiri2. Kuliah, kerja, atau berhalangan. Ada saja pokoknya.

Menyenangkan. Ya. Ramadan yang identik dengan saat mendekatkan diri baik dengan Tuhan, maupun dengan sesama ini semakin terasa suasananya. Mungkin memang hanya acara makan2 bersama. Namun lebih dari itu, berbuka bersama teman2 mampu menyegarkan pikiran setelah setahun lamanya bergelut dengan kesibukan hidup yang seakan tak pernah usai. Berbincang mengenai hal2 lucu yang pernah dilakukan, hal2 yang pernah terlewatkan, tentang kekonyolan semasa sekolah dahulu, adalah seakan air zam-zam ditengah gurun sahara. (emang ada ya??)

Oh, ya. Mulai beberapa tahun belakangan ini, hampir semua teman saya dari generasi SD, SMP, SMA, dan kuliah, semuanya mengadakan acara berbuka bersama. Luar biasa bukan. Terutama yang SD itu lho. Lucu sekali mengingat kejadian2 sewaktu masih kecil, kecil sekali, waktu kita baru belajar perkalian, belajar menjadi petugas upacara bendera. Belajar baris-berbaris, mendirikan kemah pramuka. Dan kemudian membandingkannya dengan saat ini, saat sudah berkuliah, sebagian lagi sudah menimang duit sendiri alias bekerja, dan bahkan beberapa lagi ada yang sudah menimang bayi. Ah.. cepat sekali waktu ini berjalan.

Rasany kalau mengingat2 masa lalu, ingin sekali rasanya melompati waktu, kembali ke masa2 itu, meski hanya beberapa saat saja. Haha. Buka bersama membuat saya bisa menulis ini dengan begitu lancarnya, mengalir. Sepertinya tak kan pernah habis saya tuliskan, kalau sanggup.

Saya pun berpikir, berbuka bersama mungkin adalah contoh kecil bagaimana kita menghargai hidup, menyayangi sesama, dan bahkan, mengenang sesuatu yang pasti tak akan pernah kembali. Contoh kecil, yang mungkin bisa menunjukkan betapa dekat kita dengan teman, seberapa anda berarti bagi mereka. Banyaknya acara berbuka mungkin juga sekilas simbol, betapa ternyata teman adalah aset yang tak ternilai harganya, yang bisa kita dapatkan gratis, hanya dengan kebaikan dan kemampuan kita menghormati sesama, menjalin silaturrahmi. Begitu bukan?

-menjelang ashar, 29Ramadan, kondisi otak : lagi bener-