Lagi otak-atik leppy-ku, buka my document, kog ada file word yg judulnya cerpen. Iseng2 aku buka,,dan,,,jiahaaaa ternyata cerpen bikinan adikku(ga tau juga si, mungkin hasil kerja kelompok bareng temennya kale). Aku inget sih, kapan hari dia sempet pinjem leppy buat nulis cerpen katanya. Lhaa,,ternyata file-nya masih ktinggalan di leppy, yaudah,,,tanpa copyright dari dia,,aku kasih deh buat kamu jurus maut,,,apalagi kalo bukan,,,..COPY-PASTE,,,hehe.

Slamat menikmati(jujur, aku blum baca pas mosting nih)

**************

Mukenah Buat Emak

by: Aida Fitria (cieee,,numpang beken lu dul)

“Nduk…nduk..ayo bangun, sudah subuh..” teriak emak sambil menggoncang-goncangkan tubuh ku.

“Hm….iya mak..” aku pun bergegas bangun untuk mengerjakan sholat subuh. Setelah selesai shalat, aku pun langsung membantu emak mengemasi barang dagangannya ke pasar. Ya…beginilah rutinitasku tiap hari. Tiap pagi aku pergi ke pasar bersama emak untuk menjual sayur dagangannya. Sebenarnya aku ingin sekali bersekolah, tapi emak tidak sanggup membiayaiku. Aku anak yatim piatu. Orang tuaku telah tiada sejk aku berumur 5 tahun. Ibuku meninggal saat melahirkanku, ayah ku menyusul ibu tak lama setelah ibu tiada. Sedangkan kakek ku sendiri tak tau entah kemana. Dia menghilang saat  berusaha mencari pekerjan di kota. Dari kecil, aku di asuh dan di besarkan nenek ku di rumah nya yang terbuat dari dinding batu. Memang sederhana, tapi sangat nyaman menurut ku. Aku biasa memanggilnya emak, karna aku menganggapnya seperti ibuku sendiri. Aku kasihan padanya, dia bekerja keras agar aku tetap bisa makan. Padahal usianya sudah tua. Cara berjalannya pun terseok-seok. Aku ingin membahagiakannya, satu yang saat ini dia inginkan, membeli mukenah baru. Mukenahnya sudah robek di bagian bawahnya. Lagi pula sebentar lagi telah memasuki bulan ramadhan. Aku ingin sekali membelikannya, tapi ku tk punya uang.

Tak terasa hari sudah siang, hasil dagangan emak pun kurasa cukup lumayan. Kmi pun bersiap pulang. Karna kulihat emak sudah mulai pucat.

“nduk..ayo, sudah siang emak sudah capek”

“iya mak…, ayu juga sudah capek” aku pun berjalan pulang bersama emak. Kupegangi erat tangannya. Sambil menerawang angan-angan membahagiakan emak. Tak terasa, kami pun sampai di rumah, emak langsung merebahkan tubuhnyadi atas dipan yang hanya beralaskan tikar dan satu bantal. Tidak biasanya dia begitu, ya..mungkin karna terlalu lelah. Karna tak biasanya kami pulang sesiang ini. Bergegas ku ambilkan minum untuknya.

“ini mak, mnum duluemak terlihat lelah”

“oh..iya nduk, terima kasih” kata emak seraya meneguk air putih dalam gelas. Ku elus-elus kepalanya. Terasa panas.

“mak..emak sakit? Tanya ku penasaran

“eh, nggak tau nduk emak lelah sekali, kepala emak pusing, perut emak juga sakit.” Keluh  emak.

“ya sudah emak istirahat ya..biar ay yang ngerjain tugas rumah” pintaku. Ku sangat khawatir. Aku tak ingin emak kenapa-napa. Karna hanya emaklah hartaku satu-satunya yang paling berharga.

XXX

Keesokan harinya emak tidak berjualan karna sakit. Hari ini aku berniat mengamen di perempatan jalan bersama teman-teman. Setelah siap, aku bersama dido dan ratih, dua kakak adik tetangga ku berjalan bersama untuk mengamen.

“mbak ayu,kenapa mbak ayu gak bantuin emak dagang?” tanya dido.

“emak lagi sakit dido, jadi mbak ayu ngamen aja!” jawab ku seadanya.

“oh…” ucap ratih dan dido bersamaan.

Saat kami tiba, perempatan sedang lampu merah. Pas sekali. Kami pun segera membagi tugas masing-masing. Baru sekitar 3 jam kami mengamen, aku memutuskan untuk pergi ke pasar mencari tambahan.

“dido, ratih.. aku ke pasar dulu ya..!! kalian pulang dulun aja kan udah siang..!!”

“oh.. ya udah mbak aku sama dido pulang dulu. Hati-hti ya mbak…!” akhirnya aku mulai berjalan sambil melihat dido dan ratih yang mulai jauh.

Huft….akhirnya aku sampai juga di pasar. Aku menunggu ibu-ibu keluar dari pasar sambil membawa banyak belanjaan. Ya…aku akan coba menjadi kuli angkat barang. Aku menunggu di warung bang Mi’un, warung langganan emak kalau membeli nasi sepulag dari pasar.

“bang..numpang duduk ya..”

“lho, neng ayu ngapain disini..?” “kok gak bantuin emak…?” tanya bang Mi’un.

“emak lagi sakit bang, gak jualan hari ini”

“oh.. terus, neg ayu ngapain ke pasar.?”

“ya…mau nyobain jadi kuli angkat barang, lumayan lah buat beliin emak obat sama makanan..”

“kalau makanan sih…minta bang Mi’un aja neng..” “nih nasi buat neng ayu sama emak..”

“duh bang jadi ngerepotin! Tapi… nanti ayu bayar kok….”

“yah…terserah neng aja!”

Tiba-tiba dari dalam pasar keluar seorang ibu-ibu berjilbab sambil menenteng banyak bawaan. Langsung saja, aku berlari mendatanginya sambil menawarkan jasa.

“eh…bu’ mari saya bawakan!”

“eh ya, ini makasih ya…..!”

“iya…..”

“tolong bawakan ke mobil di dekat warung itu ya…” ucap ibu tadi menambahkan. Dan aku hanya mengangguk seraya membawa barang bawaan ibu tadi yang cukup berat untuk anak sekecilku.

“em…disini bu..??”

“iya, eh ini upahnya ya….”

Ku letakkan barang tadi di bagasi mobilnya dan menerima selembar uang 20.000an dari tangan ibu tadi.

“lho…bu, ini kebanyakan..”

“gak apa-apa, ini buat kamu semuanya ibu ikhlas kok…!”

“oh..kalau begitu terima kasih ya bu.., semoga Allah melancarkan rezky ibu sekeluarga”

“amien…..” ucap ibu tadi mengamini seraya tersenyum tipis kepada ku. Kemudian ia berjalan memasuki mobilnya. Perlahan mobil itu mulai jauh dan tak terlihat. Yah….akhirnyaaku pulang karna ku rasa cukup. Kasihan emak di rumah sendirian. Kuambil bungkusan nasi di warung bang Mi’un. Dan ke apotik untuk membeli obat. Selang 30 menit aku sampai di rumah.

“emak…mak…ayu bawain nasi dan obat, makan yuk..!!”

Lama tak ku dengar jawaban dari kamar emak. Ku hampiri ke kamarnya.

“BraAkk….” aku tercengang.

**************