Keinginan untuk menimba ilmu, meraih impian, cita-cita, seberapa pun sulitnya, jika memang dilakukan dengan usaha keras dan pantang menyerah, maka Allah Swt akan memberikan jalan dengan cara-Nya. Itulah topik utama dalam buku karangan Adenita ini. Topik yang sebenarnya sudah sangat umum, dan banyak buku-buku serupa yang telah lebih dahulu beredar dipasaran. Namun, dalam buku pertamanya ini, Adenita mampu meramu kata-kata sederhana namun penuh kekuatan yang mampu memberikan energi pada pembaca untuk ikut merasakan kehidupan seorang “Matari Anas”, atau biasa dipanggil Tari, tokoh utama dalam buku ini. Tari yang seorang lulusan sebuah SMU di pinggiran Jakarta, memiliki semangat yang penuh untuk melanjutkan sekolahnya, berkuliah mengejar cita-citanya ditengah keadaan ekonomi keluarganya yang sedang terpuruk . Bukan hanya itu, peringai sang Ayah yang berubah menjadi pemarah, suka memaki-maki dan bertindak kasar terhadap ibu, kakak perempuan, serta ia sendiri, setelah sang Ayah dirumahkan oleh pabrik tempatnya bekerja

Diceritakan dengan berbekal utang sana-sini, Tari yang akhirnya diterima sebuah perguruan tinggi di Bandung, memutuskan untuk kuliah disana. Perjalanan disana tidak semulus yang dipikirkan. Pengeluaran untuk biaya kuliah dan kehidupan sehari-hari ternyata jauh lebih tinggi dari yang diperkirakan. Tari berjuang untuk kuliah, tapi juga berjuang untuk melunasi utang-utang yang ia tangung akibat keinginannya yang besar untuk sekolah lagi. Bertubi-tubi cobaan datang menghampiri Tari hingga ia sempat sakit beberapa kali bahkan hingga bertingkah laku secara tak sadar. Tari bahkan seolah-olah “dipaksa” berhenti ditengah jalan dalam perjuangannya. Mulai dari pertengkaran kedua orang tuanya yang makin sering terjadi, Ayahnya yang seolah ingin mengandaskan impiannya untuk sekolah lagi dengan alasan ekonomi. Beruntung ia memiliki sahabat-sahabat yang begitu baik, kenalan-kenalan baru yang mampu menginspirasi dn memberi energi lebih baginya untuk melanjutkan cita-cita. Dari merekalah ia belajar, mengasah pikiran dan hati, serta terus berjuang menyelesaikan kuliahnya demi satu tujuan mulia, membuktikan pada Ayahnya, pada keluarga dan orang-orang sekitarnya bahwa ia mampu, bahwa ia tidak akan mengecewakan harapan besar yang ada dipundaknya, bahwa ia akan mendapat ilmu yang dapat mengakat derajatnya serta keluarganya dari keterbelakangan.

Pada akhirnya Tari memang harus membayar mahal, lulus dengan kebahagiaan dan utang yang mencapai 70 juta rupiah, atas nama pribadi. Ia benar-benar tidak mau melibatkan keluarganya dalam hal ini. Besar memang, apalagi untuk mahasiswi yang baru saja lulus sepertinya. Namun ia mengangap itu sebagai investasi, “sebuah tanggung jawab pribadi atas sebuah impian”, katanya.

Banyak sekali pelajaran moral dalam buku ini, salah satunya ialah menyadarkan (sekali lagi) pada kita, bahwa kesuksesan itu adalah sebuah pilihan. Sebuah pelajaran untuk semua generasi muda, yang memiliki cita-cita besar, agar selalu berusaha, belajar tiada henti, berpikir matang dan terencana, serta berani dan mampu menghadapi tantangan.